Kamis, 09 Mei 2013

BK 17 Plus


Bagan Pola 17 Plus Bimbingan dan Konseling



Pola 17 Plus Bimbingan dan Konseling
BK Pola 17 Plus merupakan kerangka jaringan atau batang tubuh ilmu pengetahuan bimbingan dan konseling. Kerangka ini adalah pembaharuan dari Pola 17 yang dikemukakan pada awal tahun 2000 oleh Prayitno. Pola ini berkembang hampir di seluruh sekolah-sekolah di Indonesia.

Bidang Bimbingan dan Konseling
  1. Bimbingan Pribadi
Suatu bidang bimbingan yang secara khusus ditujukan untuk membantu para siswa menemukan, memahami, dan mengembangkan diri pribadinyaseoptimal mungkin. Ini sangat erat hubungannya dengan fungsi pemahaman dan pengembangan.
Siswa sering tidak mengetahui bakat, minat, kemampuan, kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya. Ini dapat diungkapkan melalui tes bakat, minat, dan tes kemampuan dasar (tes IQ)
Pemilihan pengembangan diri siswa harus berdasarkan data potensi diri siswa. Salah memilih kegiatan akan membuat siswa tidak berkembang dan menimbulkan frustasi.
  1. Bimbingan Sosial
Suatu proses kegiatan layanan bimbingan konseling yang bertujuan untuk pengembangan kecerdasan sosial siswa seoptimal mungkin agar mampu menyesuaikan diri dengan baik. Sosial dengan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, dan masyarakat di sekitarnya.
  1. Bimbingan Belajar
Suatu proses pemberian bantuan kepada siswa dalam upaya pembentukan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Baik di sekolah maupun di luar sekolah untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
  1. Bimbingan Karier
Suatu proses kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan untukmengenalkan berbagai macam bidang pekerjaan dan jabatan – jabatan karier untuk mengarakan cita – cita masa depan siswa.
Orientasi bimbingan karier di sekolah dasar baru pada tahap pengenalan awal untuk merangsang minat dan cita – cita pekerjaan siswa yang cocok dengan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki.

Jenis – Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan yang dimaksud adalah bentuk – bentuk kegiatan operasional yang dapat dilakukan guru pembimbing dalam proses pemberian layanan bantuan kepada siswa. Berikut uraian secara singkat :
1. Layanan Orientasi
Suatu kegiatan layanan yang bertujuan memperkenalkan hal-hal baru kepada siswa.
Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa kelas 1, siswa baru naik kelas, atau siswa pindahan baru. Tujuannya memberikan pengenalan dan pemahaman terhadap lingkungan baru, peraturan-peraturan sekolah, sarana dan fasilitas sekolah, guru-guru, dan lingkungan sekolah.
Kegiatan layanan yang dilakukan :
Ø  Orientasi umum sekolah
Ø  Orientasi kelas baru dan CAW baru
Ø  Orientasi persiapan mengikuti ujian akhir dan ujian nasional
2. Layanan Informasi
Bertujuan untuk memberikan informasi kengkap terhadap berbagai hal yang dibutuhkan siswa yang berhubungan dengna kegiatan belajar di sekolah, penyaluran bakat dan minat melalui kegiatan pengembangan diri, perlombaan – perlombaan, perngembangan diri pribadi/kelompok, informasi sekolah – sekolah lanjutan dan informasi – informasi lain di luar sekolah.
Kegiatan layanan informasi yang dapat dilakukan :
Ø  Informasi pengembangna diri pribadi/kelompok
Ø  Informasi tentang kurikulum dan proses pembelajaran.
Ø  Informasi peratruan dan tata tertib kelas/sekolah.
Ø  Informasi sekolah lanjutan.
Ø  Informasi penyaluran bakat dan minat, dan sebagainya.
3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Sering siswa di sekolah dasar salah dalam penempatan dan penyaluran pembinaan bakat, minat melalui berbagai kegiatan di sekolah. Kesalahan ini akan menganggu perkembangan dirinya. Akibatnya siswa bosan dan tidak suka mengikuti program kegiatan tersebut.
Layanan ini bertujuan untuk membantu pengembangan bakat, minat, dan kemampuan diri siswa melalui berbagai  program kegitan. Pemilihan ini harus berdasarkan minat dan bakatnya.
4. Layanan Pembelajaran
Bertujuan untuk membantu mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa dan pembentukan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Banyak terjadi di sekolah di mana prestasi belajar siswa belum mencerminkan kemampuan dasar yang dimilikinya. Hal ini disebut keterlambatan akademik dan bukan termasuk kategori siswa yang lambat belajar.
Kegiatan layanan pembelajaran di sekolah dasar yang dapat dilakukan :
Ø  Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar tentang : sikap dan kebiasaan belajar, motivasi, dan masalah kemampuan dalam belajar.
Ø  Pengembangan motivasi, sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
Ø  Pengembangan keterampilan belajar : mencatat, bertanya dan menjawab, mencatat dan menuliskan ringkasan.
Ø  Pembentukan minat dan kemauan belajar berprestasi.
Ø  Pengajaran perbaikan dan pengayaan
5. Layanan Konseling Individual
Rendahnya mutu belajar siswa disebabkan oleh banyaknya jumlah masalah yang mereka alami (berupa masalah pribadi).
Masalah pribadi siswa seharusnya diselesaikan melalui layanan konseling individual. Materi bimbingan bergantung pada masalah dan kebutuhan siswa.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan ini biasanya paling disenangi siswa, karena kegiatan ini bersifat gembira dan mengasah berbagai kemampuan sosial, bekerja sama memecahkan masalah yang sedang dialami, manfaatnya dapat dirasakan langsung, serta menambah wawasan dan pengetahuan.
Topik yang dibahas bersifat bebas sesuai dengan keinginan anggota kelompok. Guru pembimbing lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan dinamisator kelompok. Guru pembimbing perlu mendapatkan latihan keterampilan bimbingan kelompok agar mampu melaksanakannya dengan baik.
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan ini memungkinkan siswa memperoleh kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah pribadi yang dialami oleh anggota kelompok melalui dinamika kelompok. Kegiatan ini merupakan konseling yang diselenggarakan dalam kelompok.

Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling
Kegiatan pendukug dalam layanan bimbingan dan konseling merupakan berbagai upaya untuk mendukung program kegiatan secara keseluruhan.
Kegiatan pendukung ini meliputi :
1. Aplikasi instrumentasi
Merupakan penggunaan berbagai teknik dan alat pengumpulan data siswa yang meliputi tes dan non tes.
Untuk menunjukkan ciri-ciri pribadi digunakan tes standar dengan taraf kesahan dan keterandalan tinggi. Penggunaan instrumen standar hanya dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan dan kewenangan khusus untuk menyelenggarakannya.
Instrumen non tes dapat berupa inventori, angket atau alat lain yang dapat disusun sendiri. Inventori ini dilakukan oleh guru pembimbing yang memiliki kemampuan tinggi dalam proses pengolahan data maupun penginterpretasiannya.
2. Himpunan Data
Bertujuan untuk menghimpun seluruh data siswa dan keterangan-keterangan yang relevan guna keperluan pembangunan diri siswa. Data yang terhimpun merupakan hasil dari aplikasi instrumentasi. Hasil himpunan data didaya-gunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
3. Konferensi Kasus
Permasalahan siswa terkadang begitu kompleks dan saling terkait. Untuk membantu pengentasan permasalahan secara sempurna maka perlu melibatkan orang lain. Seperti kepala sekolah, guru pembimbing, orang tua siswa, narasumber, dan pihak lain yang terkait. Ini bersifat terbatas dan tertutup.
4. Kunjungan Rumah (Home Visit)
Guru pembimbing perlu melakukan kunjungan rumah. Ini bisa berdampak langsung yang bersifat ganda, yaitu dampak terhadap orang tua dan keluarga, dan dampak terhadap siswa.
Orang tua dan keluarga anak yang dikunjungi memiliki makna pemahaman orang tua bahwa sekolah begitu memperhatikan masalah pendidikan anaknya.
Bagi anak, ia akan merasa gurunya sangat memperhatikan keberlangsungan sekolahnya.
Saat kunjungan, guru pembimbing hendaknya mengemukakan tujuan kunjungan rumah, dan menanyakan keterangan penting mengenai diri siswa guna pemecahan masalah siswa itu sendiri.
5. Alih Tangan Kasus (Reveral)
Ini dilakukan jika guru pembimbing merasa tidak mampu lagi dalam mengatasi masalah siswa asuhnya dan memerlukan bantuan ahli lain.
Dapat dilakukan oleh guru pembimbing senior, konselor sekolah, ahli medis, psikolog, dan ahli lainnya.
Contohnya siswa mengalami gangguan kesehatan maka dialih tangankan kepada dokter atau perawat.

11 komentar: