Rabu, 01 Mei 2013

Konseling Trait and Factor

A.  Konsep Dasar Konseling  Trait and Factor
1. Pandangan tentang Manusia.
Manusia merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitanantara satu dengan lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Perkembangan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun kategori individu atas dasar dimensi sifat dan faktor.  Studi ilmiah yang telah dilakukan adalah : (a) mengukur dan menilai ciri ciri-ciri seseorang dengan tes psikologis, (b) mendefinisikan atau menggambarkan keadaan individu, (c) membantu individu untuk memahami diri dan lingkungannya, (d) memprediksi keberhasilan yang mungkin dicapai pada masa mendatang.  
Manusia berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik atau buruk.  Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta menolak kejahatan. Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada hubungannya dengan orang lain.

2. Asumsi Pokok Pendekatan Konseling Trait and Factor.
Karena setiap individu sebagai suatu pola kecakapan dan kemampuan yang terorganisir secara unik, dan karena kemampuan kausalitasnya relatif stabil setelah remaja, maka tes obyektif dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik-karateristik individu. Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan tingkah laku kerja tertentu. Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut kapasitas dan minat yang berbeda dan hal ini dapat ditentukan. Individu akan belajar dengan lebih mudah dan efektif apabila potensi dan bakatnya sesuai dengan tuntutan kurikulum. Baik klien maupun konselor hendaknya mendiagnosis potensi klien untuk mengawali penempatan dalam kurikulum atau pekerjaan. Setiap  individu  mempunyai kecakapan dan keinginan untuk  mengidentifikasi secara kognitif kemampuannya sendiri.

3. Pandangan tentang Kepribadian.
Kepribadian merupakan  suatu sistem yang saling tergantung dengan sifat dan faktor, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Perkembangan kepribadian manusia ditentutan oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Setiap individu ada sifat-sifat yang umum dan ada sifat-sifat yang khusus, yang merupakan sifat yang unik. Unsur dasar dari struktur kepribadian disebut sifat dan merupakan kecenderungan luas untuk memberi reaksi dan membentuk tingkah laku yang relatif tetap. Sifat (trait) adalah struktur mental yang dapat diamati untuk menunjukkan keajegan dan ketepatan dalam tingkah laku.

B.   Tujuan Konseling Trait and Factor
Konseling trait and factor bertujuan: (1) membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia; (2) membantu individu dalam memperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir; (3) membantu individu untuk memperbaiki kekurangan, tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan integrasi kepribadian; dan (4) mengubah sifat-sifat subyektif dan kesalahan dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah.

C. Deskripsi Proses Konseling Trait and Factor.
Hubungan konselor dengan klien merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka. Konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor juga mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya. Konselor memang tidak menetapkan tetapi memberikan pengaruh untuk mendapatkan cara yang baik dalam membuat keputusan.

D. Tahapan Proses Konseling Trait and Factor
  1. Analisis. Merupakan tahapan kegiatan: pengumpulan informasi dan data  mengenai klien. Konselor dan klien memiliki informasi yang dpat dipercaya, tepat, dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat,  motif,  keseimbangan emosional dan sifat-sifat lain yang memudahkan penyesuaian diri. Analisis dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat, seperti:  cacatan kumulatif, wawancara, catatan anekdot, tes psikologis, dan studi kasus.  Selain mengumpulkan data obyektif, konselor harus memperhatikan pula cita-cita dan sikap klien dan cara  memandang permasalahannya.
  2. Sintesis. Merangkum dan mengatur data hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat klien, kelamahan dan kekuatan, serta kemampuan penyesuaian diri.
  3. Diagnosis. Merupakan tahapan untuk menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Langkah diagnosis mencakup: (a) identifikasi masalah; (b) menentukan sebab-sebab; (c) prognosis
  4. Konseling. Merupakan hubungan membantu klien untuk  menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitan ini ada lima sifat konseling, yaitu : (a) belajar terpimpin menuju pengertian diri; (b) mendidik/mengajar kembali untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya; (c) bantuan pribadi agar klien mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang  diperlukan dalam kehidupan sehari-hari; (d) Konseling yang mencakup hubungan dan teknik  yang bersifat menyembuhkan; dan (e) mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran.
  5. Tindak Lanjut. Memberikan bantuan kepada klien  dalam menghadapi masalah baru  dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konseling. Teknik yang digunakan konselor harus  disesuaikan dengan individualitas klien, mengingat bahwa individu itu sifatnya unik, sehingga tidak ada teknik yang baku yang  berlaku untuk semua klien.
 E.  Teknik Konseling Trait and Factor
 1. Atending
Atending dapat dipahami sebagai usaha pembinaan untuk menghadirkan klien dalam  proses konseling. Penciptaan dan pengembangan Atending dimulai dari upaya konselor menunjukkan sikap empati, menghargai, wajar, dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi kebutuhan yang dirasakan oleh klien. Dalam tataran yang lebih operasional, melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
  • Bagaimana  saudara mengenal dan mengantisipasi bila seseorang sangat tertarik pada Anda?
  • Bagaimana saudara mengenal bila seseorang memberikan perhatian terhadap Anda?
  • Bagaimana saudara mengenal atau mengetahui bila seseorang mendengarkan, memperhatikan dan  menghayati Anda ?
Melalui jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, konselor dapat memulai melakukan pembinaan untuk mengajak klien mamasuki proses konseling.
Aspek-aspek atending meliputi :
  • Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka). Duduk dengan badan menghadap kepada klien. Tangan di atas pangkuan atau berpegangan bebas atau kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak isyarat yang sedang dikomunikasikan secara verbal. Responsif   dengan  menggunakan  bagian  wajah,  umpamanya senyum spontan atau anggukan kepala sebagai persetujuan atau pemahaman dan krutan dahi tanda tidak mengerti. Badan  tegak  lurus  tetapi  tidak kaku, manakala diperlukan bisa condong ke arah klien untuk menunjukan kebersamaan.
  • Kontak Mata. Melihat klien terutama pada waktu bicara. Menggunakan pandangan spontan yang  menunjukkan ekspresi minat dan keinginan untuk mendengarkan dan merespon
  • Mendengarkan. Memelihara pehatian penuh, terpusat pada klien. Mendengarkan apapun yang dikatakan klien, mendengarkan  keseluruhan   pribadi klien  (kata-katanya,  perasaannya, dan perilakunya). Memahami keseluruhan pesannya
2. Mengundang Pembicaraan Terbuka
Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan klien agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan dukungan pewawancara. Pertanyaan terbuka memberi peluang klien untuk mengemukakan ide perasaan dan arahnya dalam wawancara. Responnya terhadap pertanyaan terbuka ialah untuk menunjukkan kesadarannya bahwa dia diminta untuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah dikatakan.
Contoh pertanyaan terbuka :
1. Untuk membantu memulai wawancara :
     “Apa yang akan Anda bicarakan hari ini?”
     “Bagaimana keadaan Anda sejak pertemuan terakhir kita?”
 2. Membantu klien menguraikan masalahnya :
    “Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi  tentang hal itu!“
    “Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?”
3. Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku   khusus :
     “Apa yang Anda sedang rasakan pada saat Anda  menceritakan hal ini kepada saya?”
     “Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada waktu  itu?”
Pertanyaan yang tidak disarankan antara lain:
  • Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering.
  • Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada waktu yang sama.
    Dapatkah anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu?”
  • Pengajuan pertanyaan “Mengapa”, umpamanya :   “Mengapa anda tidak bergaul dengan baik?”
  • Memasukkan jawaban dalam pertanyaan, umpamanya :  “Anda sebenarnya belum mengerti hal itu pada saat anda mengatakan tentang ayahnya, bukan?”
 3. Paraprase
Esensinya adalah mengulangi kata-kata atau pemikiran-pemikiran kunci dari klien dalam rumusan-rumusan yang menggunakan kata-kata konselor sendiri. Memberi tahu klien bahwa ia sedang mendengarkan apan yang dikatakan dan konselor ingin mendengarkan leih banyak lagi.   Klien akan merasa dimengerti dan dipersiapkan untuk mengolah lebih dalam lagi masalah-masalah yang diajukannya.
Maksud dari kegiatan paraprase adalah :
  • menyampaikan kepada klien bahwa konselor bersama klien,   dan konselor berupaya memahami apa yang dinayatkan klien
  • mengkritalisasi komentar klien dengan lebih   memendekannya sehingga membantu mengarahkan   wawancara
  • memberi peluang untuk memeriksa kecermatan persepsi konselor.
Cara Memparaprase :
  • Dengarkan pesan utama klien
  • Nyatakan kembali kepada klien ringkasan pesan utamanya secara sederhana dan singkat
  • Amati pertanda atau minta respons dari klien  akan bantuan paraprase.
 Hindari:
  • analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien
  • respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan klien klien, bukan  kepada tema utamanya
  • pemakaian kata-kata teknis yang tidak dimengerti klien
4. Refeksi perasaan
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespons keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi. Tindakan tersebut akan mendorong dan merangsang klien untuk mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapinya. Jadi, esensi keterampilan ini adalah untuk mendorong dan merangsang klien agar dapat mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang dialami.

Aspek-aspek refleksi perasaan :
  • Mengamati perilaku klien
  • Mendengarkan dengan baik
  • Menghayati pesan yang dikomunikasikan  klien.
  • Mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien.
  • Menyimpulkan perasaan yang sedang dialami.
  • Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk  melukiskan perasaan klien.
5. Meringkas .
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling. Meringkas : rupaya merekapituasi, memadatkan, dan mengkristalisasi esensi apa yang telah dikatakan klien. Dengan menggunakan ringkasan secarea periodik, konselor dapat memeriksa kecermatannya dalam  mendengarkan. Ringkasan juga membantu untuk mengakiri wawancara dengan suatu cartatan yang wajar, dan dapat menjadi panduan wawancara.
Panduan umum meringkas:    (1) Adakan refleksi atau atending terhadap       berbagai variasi tema dan nada     emosional pada saat klien berbicara; (2) Gabungkan perasaan dan ide kunci ke dalam  pernyataan-pernyataan yang pengertian  dasarnya luas; (3) Jangan tambahkan ide-ide baru dalam ringkasan; dan (4) Pertimbangkan kalau sekiranya dapat membantu kalau menyatakan ringkasan atau mengajak klien untuk membuat ringkasan.

F. Keterbatasan Pendekatan Konseling Trait and Factor

  • Pandangannya dikembangkan dalam situasi pendidikan dan kliennya dibatasi terutama kepada siswa-siswa yang memiliki keragaman derajat kemantapan dan tanggung jawab sendiri.
  • Pandangannya terlalu menekankan kepada pengendalian konselor dan hasil yang dicapai pada diri klien lebih banyak tergantung kepada keunggulan konselor dalam mengarahkan dan membatasi klien.
  • Banyak meminimalkan atau mengabaikan aspek afektif klien yang justru seharusnya menjadi kepedulian konselor.
  • Terlalu banyak pertimbangan yang ditekankan pada data obyektif. Penggunaan dan keyakinan yang berlebihan terhdap data ini kurang tepat karena keterbatasan reliabilitas, validitas, dan kelengkapan alat dan datanya.
  • Suatu dilema bagi konselor karena ia harus mendorong dan meyakinkan klien mewujudkan kemampuannya, tetapi ia harus melakukannya tanpa persuasi.

Sumber: akhmadsudrajat

Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013

"Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum 2013”. Itulah tema masukan pemikiran dari Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia, terkait dengan kegiatan pengembangan Kurikulum 2013 yang saat ini sedang digodok pemerintah.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa dalam Draft Pengembangan Kurikulum 2013, posisi dan keberadaan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013 masih tampak samar-samar. Barangkali atas dasar itulah, sejumlah pakar dan praktisi Bimbingan dan Konseling yang tergabung dalam Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia tergerak rasa tanggungjawabnya untuk berpartisipasi dalam rangka mensukseskan Implementasi Kurikulum 2013.


Perlu diketahui Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah sejumlah pakar dan praktisi Bimbingan dan Konseling yang berhimpun dalam:
  1. Himpunan Sarjana  Bimbingan dan Konseling Indonesia (HSBKI), unsur Himpunan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)
  2. Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling Nasional  (MGBKN)
  3. Forum Komunikasi Jurusan/Program Studi  Bimbingan dan Konseling Indonesia (FK- JPBKI)
  4. Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah (IBKS), divisi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN)
  5. Ikatan Pendidik dan Supervisi Konseling (IPSIKON), divisi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN),
Mereka telah melakukan serangkaian diskusi yang intens sehingga berhasil merumuskan pokok-pokok pikiran penting terkait dengan Peran Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013 untuk dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan Bimbingan dan Konseling.

Pokok-pokok pikiran tersebut mencakup:
  1. Hakikat Peminatan dalam Implementasi Kurikulum 2013
  2. Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
  3. Eksistensi Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
  4. Prinsip Dasar Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013
  5. Kerangka Program Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013
  6. Pengembangan Pedoman Bimbingan dan Konseling
  7. Penyiapan Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor Profesional

Sumber: akhmadsudrajat

Psikologi Behaviorisme


Timbul di Rusia tetapi berkembang di Amerika dan mempunyai pengaruh yang cukup lama

a)      Ivan Petravich Pavlov (1849-1936)
Aliran psikologi di Rusia dipelopori Ivan Petrovich Pavlov yang dikenal sebagai aliran behaviorisme. Behaviorisme merupakan aliran dalam psikologi yang timbul sebagai perkembangan psikologi umum. Ahli psikologi dalam behaviorisme ingin meneliti psikologi secara obyektif. Mereka berpendapat, kesadaran adalah hal yang dubious (sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung atau nyata)
Menurut Pavlov, aktivitas dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Aktivitas bersifat reflek yaitu aktivitas organisme yang tidak disadari oleh organisme yang bersangkutan.
2.      aktivitas yang disadari yaitu aktivitas atas kesadaran organisme yang bersangkutan.
Pavlov memusatkan perhatiannya pada masalah reflek dan sering disebut sebagai psikologi reflek atau psychoreflekology. Awalnya pemikiran dan eksperiman Pavlov hanya terbatas di Rusia lalu menyebar ke Amerika, hal ini dikarenakan para ahli yang menolak metode introspeksi dalam psikologi . karena introspeksi tidak dapat diperoleh data yang obyektif. Pavlov merintis obyektif psycology, dia mendasarkan eksperiman atas dasar observasi fack. Eksperiman Pavlov banyak pengaruhnya pada masalah belajar, misalnya pembentukan kebiasaan. 

b)      Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Menurut Thorndike, asosiasi antara sense of impression dan impuls to action disebutnya sebagai koneksi/ connectin (usaha untuk menggabungkan antara kejadian sensoris dengan perilaku)
Thorndike menitik beratkan pada aspek fungsional di perilaku yaitu proses mental dan perilaku yang berkaitan dengan penyesuaian diri organisme terhadap lingkungannya. Thorndike diklasifikasikan sebagai behaviors yang fungsional, berbeda dengan Pavlov yang behavioris asosiatif.
Menurut Thorndike dasar dari belajar adalah trial dan error atau secara asli disebut sebagai learning by selecting dan connecting. Thorndike menyimpulkan dari eksperimennya puzzle box bahwa hewan menunujukkan adanya penyesuaian sebelum melepaskan diri dari box. Dari eksperimen itu, Thorndike mengajukan 3 hukum dalam belajar (hkum pimer) yaitu:
1.      Hukum Kesiapan
Agar hasil belajar baik harus ada kesiapan dari organisme yang bersangkutan.
2.      Hukum Latihan
a.       The law of use, menyatakan hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon menjadi kuat apabila sering digunakan.
b.      The law of disuse, menyatakan hubungan antara stimulus dan respon akan lemah bila jarang digunakan.
3.      Hukum efek
Kuat danlemahnya hubungan stimulus dan respom tergantung pada hasil respons yang bersangkutan.

c)      Burrrhus Frederic Skinners (1904-1990)
Skinners membedakan perilaku menjadi:
a.       Perilaku yang alami yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas atau yangbersifat refleksif.
b.       Perilaku operan yait perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak diketahui, tapi ditimbulkan oleh organisme itu setelah mendapat stimulus dari luar.

d)     John Boardus Watson (1878-1958)
Menurut pandangan Watson, psikologi itu murni dan merupakan cabang dari ilmu alam ekperimental. Tujuannya adalah mempredikasi dan mengontrol perilaku. Instropeksi bukanlah metode yang digunakan . yang diperlajari adalah perilaku yang dapat diamati bukan kesadaran karena merupakan pengertian yang dubious.
Watson mengadakan eksperimental mengenai kondisioning pada anak akibat pengaruh Pavlov yang mempunyai kesimpulan bayi terbentuk respon berkondisi. Selain itu ada yang eksperimen pada anak yang bernama Albert yang mempunyai kesimpulan bahwa reaksi emosional dapat terbentuk dengan kondisioning.

Senin, 08 April 2013

grow old with you :) by Poconggg

poconggg aka ariefmuhammad, pada tau doong ?
nah ini aku gak sengaja ketemu sama sc dia. pas dengerin grow old with you langsung sukaaa bikin melting haha. so, kali aja yang mau ikut dengerin klik link dibawah ini yaa..
atiati pas awal ada suara nyeremin XD

grow old with you :) by Poconggg

Jumat, 05 April 2013

S to the Sumpek

kyaaaa.. kata pertama yang keluar tuh SumpeK. sumpek sumpek banget ><
ya harusnya sih udah biasa sama hal kayak gini, kebanyakan tugas jadi bingung mau ngerjainnya dan gak tau gimana cara menyelesaikannya dengan cepat dan tepat. errrr
sebagai anak asuh yang baik itu ya emang ngerjain tugas, selesaikan, kumpulin. tapii, kadang bapak/ibu tersayang ada yang objektif ngasih nilai, ada juga yang secara sukarela ngasih nilai yang menurut anak asuh gak setimpal sama hasil kerja mereka. "kenapa cuma dapet nilai segini sih" "kok dia yang ngawur ngerjainnya malah dapet nilai bagus" "perasaan udah ngerjain bener, apanya yang salah???" daaan kalimat-kalimat keluhan lainnya. yap, ini yang suka saya alami sendiri juga haha -__-
ada ibu yang bilang kebanyakan anak asuh suka menyalahkan bapak/ibu tersayangnya, anak asuh gak menyadari kesalahannya *beneeeerbangeet*. iya, bener banget yang dibilang ibu tadi, tapi itu berlaku buat bapak/ibu yang bener-bener objektif ngasih nilainya menurut saya. saya juga coba buat berpikir positif, oh mungkin saya ngerjain kurang ini dan itu. tapi balik lagi, tetep aja kesel kalau ngebandingin hasil nilai sendiri sama yang lain, apalagi yang lainnya itu jelas- jelas kerjaannya sama, gak ada yang beda (copypaste), kesel liat hasil yang bener-bener ngerjain dapet nilai kurang daripada yang asal ngerjain. so ini namanya apa ? hukum alam ? keberuntungan ? manusiawi ? ketidakadilan ?wkwk pffttt..
saya sih bilangnya kalau ini keberuntungan, ya kalau emang lagi bejo dapet nilai bagus, kalau lagi gak bejo dapet nilai tidak memuaskan. harus le-go-wooo dan menyadari kesalahan. gak semua menurut kita udah maks tapi menurut yang lain enggak. gak semua menurut kita itu mins tapi menurut yang lain itu udah maks. yah begitu deh, intinya harus lebih belajar lagi, berdo'a, semangaaaaat!!! *pukpukindirisendiri*
yang penting kedepannya semoga jadi orang sukses yang bermanfaat buat orang lain terutama keluarga :3
aamiin.... La haula wa la quwwata illa billah..