Kamis, 02 Agustus 2012

beri ancaman atau dorongan ??

hai blogger, assalamualaikum :)
cuma mau sedikit share yang aku dapet sewaktu buka facebook. ada satu bacaan yang dikirim dari temen ke sebuah grup esemaku hoho bagus dan sekiranya bisa dibuat renungan bagi semuanya terutama calon pendidik dan pendidik. cekidoooot

Tulisan Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI), share dari teman.

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Kamis, 19 Juli 2012

Marhaban Ya Ramadhan :)

Assalamu'alaikum wr wb..
Alhamdulillah bulan ramadhan tibaaa yeay :D
Tahun ini ketiga kalinya puasa di bulan ramadhan tanpa papa, gak kerasaaa ya
Semoga tahun ini bisa jalanin puasa dengan lancar, khidmat, baik dan lebih baik tentunya dari tahun kemarin hehe. Amiiin
Selamat berpuasa juga buat saudara-saudara muslim dimana puuun ;)




Minggu, 24 Juni 2012

in team - sentuhanmu

kalau dengerin lagu ini jadi inget almarhum Ayah deh, kangeeeen banget sama beliau :')
sedih juga belum bisa ngasih apa-apa buat Ayah sewaktu beliau masih hidup hiks hiks, sekarang cuma bisa ngasih do'a , do'a, dan do'a..

Terpanar aku pada sentuhan keramatmu
Mengheret aku mentafsir memori silammu
Dulu ku ragu apa terbungkam dibenakmu
Kini ku tahu apa yang terbuku di hatimu

Surut dedarku pada usapan manteramu
Tunduk ungkalku pada ketegasan dirimu
Terpasak semangat pada keyakinan tekadmu
Keakuranku pada tunjuk dan titah arahanmu

Oh ayah,
Tak pernah ku tanya
Kemana tumpahnya keringatmu
Oh ayah,
Tak pernah ku hitung
Berapa banyak kerutan di dahimu
Yang ku pinta hanyalah kemahuan hatiku
Yang sedaya ayah laksanakan

Kau pendorong bukanlah pendesak
apalagi memaksa diriku
Aku terlorong bukan terdesak
apalagi rasa terdera

Tak terkuis dugaan menduga
Apalagi takdir yang menerpa
Aku mengharap bukan menolak
Apalagi cuba melupa

Lestari kasihmu tanpa batasan
Sempadan waktu yang memisahkan
Abadi hingga ke hujung usia akhiran masa
Sentuhanmu amat bermakna..

Senin, 18 Juni 2012

say good bye

hai blogger, apa kabar ? kalau aku kurang baik, lagi sedih :(
dia, iya dia cowok tampan yang pendiem, yang paling suka pakai pakaian khasnya : sarung, baju koko lengkap sama pecinya. tiap ketemu selalu dia mau jalan ke arah masjid. jangan kan kenalan, tau namanya aja belum pernah. hahaha aneh ya ? tapi gak tau kenapa pertama kali ketemu dia, dia bikin aku tertarik. kita jarang ketemu, gak selalu ketemu. rumah kita aja jauhan, mungkin sekitar 200 meter. tapi aku tau rumah dia dimana sih. sekali dua kali ketemu, aku mikir kalau cowok yang punya senyum manis ini anak alim, keliatan banget deh dari muka sama orangnya dan gak tau kenapa tiba-tiba aku punya rasa kagum ke dia. seneng tiap kali ketemu sama dia. padahaaaal, kenalan aja gak pernah, tau sifatnya aja enggak, nama ?apalagi nama, aku gak tau, gak tau apa-apa tentang dia. yang aku tau dia cowok kurus, putih, dengan model rambut yang pendek kayak anak-anak SMK gitu, senyumnya yang manis dengan pakaian khasnya :)
hari minggu siang kemarin, tanggal 17 Juni 2012 ada pengumuman berita duka dari masjid, anaknya masih muda (seumuranku). awalnya aku gak tau siapa yang meninggal, gak sengaja sorenya aku keluar dan liat ada ramai-ramai di rumah dia. yeep, pikiran jelek langsung muncul di kepala "jangan-jangan dia, mudah-mudahan bukan, kalau iya gimana , masa iya" dan lain-lain deh. di lain sisi, aku yakin kalau yang meninggal itu dia, sedih kalau ternyata emang bener :(. tapi aku tetep yakin kalau itu bukan dia, mungkin tetangga sebelahnya.
dan keesokan harinya, sewaktu berangkat kuliah bareng temen yang ternyata rumahnya deket dia, aku tanya-tanya siapa yang meninggal kemarin disitu, aku tanyain gimana ciri-ciri anaknya, dirumah itu anak cowok yang paling besar cuma dia (aku juga ngeiyain kalau emang disitu cuma dia anak cowok yang paling besar), dan temen ngeiyain juga kalau dia anak yang emang suka pakai baju koko sarung plus pecinya. Ya Allah, denger pernyataan temen yang udah pasti emang dia yang aku ceritain ciri-cirinya dan dia yang meninggal, aku langsung lemes sedih pengen nangis #cerita kek gini juga aku mewek hiks hiks :'(. dari temen juga aku baru tau namanya Muhammad Rizal, bener dugaanku dia cowok alim yang pendiem, rajin ibadahnya, dan jaga banget agamanya. sekarang dan seterusnyanya, aku gak bakal ketemu lagi sama dia, gak bisa lagi liat dia yang pakai pakaian khasnya jalan ke arah masjid, gak ada senyumnya lagi. iya, emang udah takdir yang diatur sama Allah. disini cuma bisa berdo'a buat dia, semoga amal ibadahnya diterima, diampuni segala dosanya oleh Allah, dan semoga mendapatkan tempat yang paling baik di sisi-Nya. alm. Muhammad Rizal, cowok yang aku kagumi walaupun belum sempat kenal, yang pernah aku impiin jadi imamku nanti, hahaha konyol ya ?yah terserah deh mau ngejudge kayak gimana. alm. Muhammad Rizal, semoga kamu tenang di tempat sana :')

Selasa, 08 Mei 2012

hip hip hura *yeaah*

akhirnyaaa mahasiswi sok sibuk bisa ngepost lagi haha  *itu gue IYA itu gue -,-*
blog aku pasti kangen pengin dibelai-belai deh huhu #maaf ya sayaang :* habisnya banyak halangan mau ngebelai kamu sayang. kita liat aja nih halangan-halangannya apa aja hakhakhak
1. banyak tugaaaas
2. gak sempet beli pulsa modeem *gak ada duit tepatnya -,-
3. males mau nyalain pc
4. udah capek duluan dari pulang kuliaah
5. belajaar :) *sumpah ini bohong
6. lebih praktis main hp
7. dapet tugas tambahan dari nyonya tersayang xixi
8. internetnya gak pengertian !lemoot bangets
9. rebutan modem sama kakak *makanya beli dong kak !
10. kekurangan ide mau ngepost apa wkwk *pingsan
11. dan lain-lain
12. cukup yang di atas dulu halangannya :p
yah jadi kira-kira gitu deh halangannya. sebenernya sih kalau disimpulin intinya itu emang dasar males buat online blog hahaha #gak konsisten
oke lanjut aja deh, jadi (lagi) banyak mau diceritain disini tapi kayaknya udah basi semua deh ceritaku wkwk udah kelewat masa kadaluwarsanya xixi
mungkin cerita liburan kemarin deh, akhirnya liburan kemarin dateng ke tempat kakak di kota Serang bareng adikku. kita disana 5 hari loh, jalan jalan muter Serang, santai-santai di rumah kakak, terus terakhirnya kita jalan ke dufan. asik seru konyol waktu di dufan hahaha, tapi gak mau aku ceritain disini deh :p. habis dari dufan, aku en adik di jemput Om buat nginep di rumah tante yang ada di Cibubur. disini juga ada kejadian yang sumpah kocak banget hahaha, aku ceritain lain kali deh ya :D
singkat cerita ternyata kemarin aku habis uts semester genap (cepet bangettt), jadwalnya tuh full semingguu. aseli ya capek banget nih otaknya. ujiannya sih ya lumayan deh, susah susah gampang (relatif kan ?). yaa lagi berdo'a aja supaya nilainya baguuuus, Amin Amin :)
apalagi yaa *tuh kan suka bingung mau ngetik apalagi hiks hiks (gak bakat ngarang)*. ah iya ada banyak list yang lagi pengin aku beli hahak .coba liat dibawah ini
1. jumper warna biru gambarnya stitch ,uwh lucu :3
2. sepatu ketsss
3. wedges
4. novel novel baruuu
5. buku refrensi buat kuliah
6. celana warna kopi susu xixi
7. handphone baruuu ,handphoneku udah uzur :(
8.komik humor
9. taaas
10. HD
11. kamera
12. bajuu dong
13. tempat pulpen, punyaku udah jebol huhu
eh buset ternyata banyak juga haha, tapi ya gimana lagi namanya juga pengin beli. kira-kira mana duluan yang bakal didapet ya ??? tunggu aja nanti hahaha :D